Cuci tangan: kebiasaan kecil yang paling sering disepelekan di rumah
Dari sabun sampai cara mengeringkannya.

Akhir September, udara kering dan berdebu, anak-anak pulang sekolah dengan tangan hitam entah dari mana. Saya sering melihat mereka langsung menyambar makanan di meja. Dan saya sadar, saya sendiri juga tidak selalu cuci tangan sebelum makan.
Cuci tangan terdengar remeh karena kita merasa sudah tahu. Tapi yang sering terjadi di rumah adalah bilas sebentar di bawah keran tanpa sabun, lalu dilap ke celana.
Baca juga: Kotak obat di rumah: isi yang benar-benar dipakai saat musim hujan
Yang berubah setelah kami membuat aturan sederhana
Kami menyepakati tiga waktu wajib: sebelum makan, setelah dari kamar mandi, dan begitu masuk rumah. Sabun ditaruh di tempat yang gampang dijangkau anak, bukan di rak tinggi. Handuk kecil di dekat wastafel diganti tiap hari supaya tidak lembap dan bau.
Untuk anak kecil, membuat cuci tangan menjadi permainan ternyata lebih berhasil daripada menyuruh. Menyanyi satu lagu pendek sambil menggosok telapak, punggung tangan, sela jari, dan kuku membuat durasinya cukup tanpa perlu melihat jam.
Orang dewasa di rumah adalah contoh. Kalau ayah dan ibu langsung makan tanpa cuci tangan, aturan apa pun akan dilanggar. Kebiasaan ini murah, tidak butuh alat khusus, dan mengurangi banyak keluhan perut yang sering muncul tanpa jelas sebabnya. Jika anak sering diare atau sakit perut berulang, tetap periksakan ke dokter.