Edisi 21 September 2026Kebiasaan kecil, umur panjang.
← Sehat HarianKeluarga

Menyikat gigi anak dua kali sehari: membangun rutinitas yang bertahan melewati drama

Gigi berlubang pada anak hampir selalu berawal dari kebiasaan menyikat yang bolong-bolong dan jajan manis yang tak terkendali. Rutinitas yang kokoh lebih berharga daripada pasta gigi yang mahal.

Menyikat gigi anak dua kali sehari: membangun rutinitas yang bertahan melewati drama
Foto: e / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Hampir setiap orang tua tahu anak harus menyikat gigi dua kali sehari. Yang jarang dibicarakan adalah betapa sulitnya mewujudkan pengetahuan itu setiap malam, ketika anak lelah, orang tua lebih lelah, dan sikat gigi menjadi bahan tangisan yang memakan waktu lebih lama daripada menyikat itu sendiri. Di musim hujan seperti sekarang, saat anak lebih banyak di rumah dan jajan manis lebih dekat, drama itu semakin sering berakhir dengan kata menyerah.

Gigi susu sering dianggap tidak penting karena akan diganti. Padahal gigi susu yang berlubang bisa menimbulkan sakit, mengganggu makan dan tidur, dan memengaruhi gigi tetap yang tumbuh di bawahnya. Rutinitas yang dibangun sejak gigi pertama tumbuh adalah investasi yang hasilnya terlihat bertahun-tahun kemudian.

Baca juga: Dinding lembap dan baju yang tak kering: menjaga udara di dalam rumah saat musim hujan

Menjadikannya bagian dari urutan, bukan negosiasi

Anak kecil menerima sesuatu yang selalu terjadi dengan urutan yang sama jauh lebih mudah daripada sesuatu yang dibahas setiap kali. Mandi, pakai piyama, sikat gigi, baca buku, lampu dimatikan. Jika urutannya tidak pernah berubah, sikat gigi berhenti menjadi perdebatan dan menjadi bagian dari jalan menuju cerita sebelum tidur.

Pada anak yang masih kecil, orang tua yang menyikat, bukan anak. Biarkan anak memegang sikat sendiri dulu untuk bermain, lalu orang tua menyelesaikannya. Nyanyian pendek atau pasir waktu memberi batas waktu yang jelas dan menghentikan tawar-menawar. Menyikat gigi bersama di depan cermin, orang tua dan anak berdampingan, sering kali lebih berhasil daripada perintah dari pintu kamar mandi.

Jajan, susu botol, dan malam hari

Menyikat gigi hanyalah separuh urusan. Gula yang menempel di gigi berjam-jam, terutama dari susu botol yang dibawa tidur, permen yang dikulum lama, dan minuman manis yang disesap sepanjang hari, adalah separuh lainnya. Air putih setelah makan manis dan tidak ada apa pun selain air setelah sikat gigi malam adalah dua aturan yang paling berdampak.

Jajan di rumah bisa diatur dengan menyediakan buah potong dan camilan yang tidak lengket di tempat yang mudah terlihat, sementara permen dan biskuit manis disimpan di tempat yang perlu diminta.

Kunjungan ke dokter gigi sebelum ada yang sakit

Kunjungan pertama ke dokter gigi sebaiknya terjadi saat gigi masih sehat, bukan saat sudah sakit, agar anak mengenal kursi dan alat tanpa trauma. Dokter gigi juga yang paling tepat menyarankan jenis pasta gigi, jumlahnya, dan perawatan tambahan yang sesuai dengan usia dan kondisi gigi anak Anda.

Bercak putih kapur atau kecokelatan di gigi, anak yang mengeluh ngilu saat makan dingin, atau gusi yang berdarah saat disikat adalah alasan untuk datang lebih cepat. Rutinitas yang baik tidak menjamin gigi tanpa lubang, tetapi membuat kunjungan ke dokter gigi menjadi pemeriksaan rutin, bukan tindakan darurat.

LA
Laras AnindyaLaras Anindya bergabung pada 2025 dan menulis tentang gizi, olahraga untuk pemula, dan kesehatan mental. Ia selalu mencoba sendiri rutinitas olahraga yang ditulisnya selama dua minggu sebelum merekomendasikannya.